Kisah Horor di Pesantren: Dijenguk Ayah yang Sudah Meninggal (Part 3)

Kisah Horor di Pesantren: Dijenguk Ayah yang Sudah Meninggal (Part 3) 
piqsels.com-id-skrej.jpg
Ilustrasi cerita Kisah Horor di Pesantren. Foto: Piqsels
Namanya Sandi, dia itu pendiam. Berbicara seperlunya saja dan memisahkan diri dari santri lain. Di pondok biasanya kami makan bersama dan saling berbagi lauk pauk. Namun lain halnya dengan Sandi, dia selalu makan sendirian di depan lemarinya. Yang dia makan pun hanya nasi putih dan garam. Padahal, dapur pondok menyediakan lauk pauk yang beragam.
ADVERTISEMENT
Aku juga heran, hampir semua pakaian Sandi berwarna putih. Pakaian di lemarinya yang berbeda warna hanya baju pramuka, celana hitam dan batik sekolah. Aku tidak paham apa maksud dari pakaiannya yang serba putih itu.
Dia juga punya batu berwarna putih yang ukurannya sekepalan tangan. Batu itu selalu ia bawa ke mana-mana, kadang ada saja temanku yang iseng membicarakan batu milik si Sandi. Katanya itu batu berhala dan harus dimusnahkan. Aku sendiri sih tidak berani berkata macam-macam tentang batu itu karena aku yakin itu bukan batu sembarangan.
Hal itu terbukti, pernah suatu ketika pondok dilanda penyakit bisul. Banyak santri yang bisulan dan yang terparah adalah Hadi teman SD-ku. Dia punya bisul di bagian bokong sebelah kanan sehingga kalau dia lagi di kelas, posisi duduknya pasti miring.
ADVERTISEMENT
Semakin lama bisulnya Hadi semakin membesar dan bengkak, tapi anehnya tak kunjung pecah. Di saat genting seperti itu datanglah Reno, dia anak kamar sebelah yang katanya bisa memecahkan bisul dengan alat yang ia buat sendiri. Cara kerja alat itu sederhana semacam alat bekam hanya saja menggunakan gelas kaca.
Ia juga menggunakan koin yang dibungkus dengan kertas untuk menyulut api. Hadi malam itu tidak bisa tidur, bokongnya terasa panas seperti dibakar. Aku tak tega melihatnya, akhirnya aku panggil Reno untuk membantu si Hadi.
“Kau tenang Di. Gua ini profesional. Anak kamar lantai dua aja sembuh sama gua.”
“Allah yang menyembuhkan Ren,” potongku.
“Ya maksud gua itu,” kata Reno.
ADVERTISEMENT
“Udah jangan banyak omong cepat pecahin bisulnya,” sergah Hadi sambil meringis.
Reno menggulung lengan bajunya, dia lalu menyibakkan sarung Hadi. Tampaklah bisul yang memerah dengan titik hitam di puncaknya.
Reno menggelengkan kepala, “Udah parah nih.”
Ia meletakkan koin yang dibungkus kertas menyerupai sumbu lalu meneteskan minyak tanah pada kertas tersebut, lengan kanannya merogoh korek api di kantong celana. Dinyalakannya sumbu tersebut, sekita api berkobar di atas bisul Hadi. Lengan kanan Reno meraba-raba.
“Gelas mana gelas?!” Reno panik.
“Gelas apa?” tanyaku balik.
“Gelas gua!” dia semakin panik lantaran api tambah besar.
“Lu dari tadi nggak bawa gelas kok,” sergahku. Dan ternyata dia memang lupa bawa gelas.
Api semakin membesar, Hadi berteriak kepanasan.
“Tolongin gua!” wajahnya merah seperti akan menangis.
“Gayung pake gayung aja!” kuserahkan gayung pada Reno.
Dia langsung menutup kobaran api itu dengan gayung, tapi bukannya padam malah gayung itu terbakar. Keadaan semakin kacau, dan tiba-tiba ada seseorang yang melemparkan batu ke arah Hadi. Itu batu berwarna putih, api langsung padam, bisul Hadi pecah seketika.
“Kamu nggak apa-apa?” Sandi menyentuh pundak Hadi.
Tampak wajah Hadi berkeringat, napasnya tersengal-sengal. Ia sangat ketakutan sehingga tidak bisa menjawab apa pun. Sandi lalu mengambil kembali batu putih miliknya.
“Reno, lain kali hati-hati ya,” kata Sandi sambil menatap Reno yang masih terlihat panik.
Kejadian itu membuatku yakin kalau batu yang dimiliki si Sandi ada penunggunya. Bukan sekali dua kali aku dan teman-teman kamar mendengar suara aneh dari dalam lemari Sandi. Batu itu seperti bergetar mengeluarkan suara gaduh dari dalam lemari, tapi tak ada satu pun yang berani menegur Sandi termasuk ketua kamarku. Dia diam saja pura-pura tidak mendengar suara itu, tampaknya dia memang tidak mau bermasalah dengan si Sandi.
***
Tengah malam aku terbangun karena mendengar suara tawa dua orang yang seperti sedang bermain. Suara itu berasal dari balik lemari dekat dengan pintu, saat aku hendak bangun seseorang menggenggam tanganku. Itu Hadi yang tidur di sebelahku, ternyata dia juga terbangun.
“Sssttt… jangan,” Hadi menggelengkan kepala.
“Itu siapa?” bisikku.
“Sandi.”
“Sama siapa?” tanyaku lagi dengan suara pelan.
“Nggak tahu. Udah dari tadi dia ketawa-ketawa gitu.”
Karena penasaran, aku melepas genggaman Hadi lalu mengendap-endap ke lemari dekat pintu. Dari celah lemari itu, kulihat Sandi bermain dengan anak kecil, umurnya sekitar enam tahunan. “
Siapa dia?” tanyaku dalam hati.
Saat aku sedang serius mengintip tingkah mereka, tiba-tiba saja anak kecil itu menoleh ke arahku sambil tersenyum, dia lalu menunjuk ke arahku. Segera aku kembali ke tempat tidur sebelum si Sandi mengetahuinya.
Keesokan harinya, kulaporkan kejadian itu pada ketua kamar, sayangnya tidak ditanggapi. Ketua kamarku mungkin saja mendengar suara itu dan dia takut kalau harus menegor si Sandi. Hadi menceritakan kejadian itu ke kamar sebelah hingga menyebar luas ke semua santri.
Selain perilakunya yang misterius itu, keluarga sandi juga tidak kalah aneh. Di pondok itu, hanya sandi yang sering dijenguk ayahnya tengah malam. Aku sampai hafal berapa kali di dijenguk dalam sebulan. Itu hampir setiap minggu dan pasti malam Sabtu.
Saat santri sedang tidur pulas, si Sandi malah dijenguk tengah malam. Aku sering membukakan pintu untuk ayahnya Sandi. Aku juga sering dikasih uang tip, ayahnya memang baik. Kata Sandi, ayahnya adalah orang sibuk sehingga dia hanya bisa menjenguk Sandi di malam hari saja.
Setiap Sandi dijenguk pasti satu kamar makmur oleh makanan. Bapaknya Sandi sering membawa nasi timbel dengan lauk pauk yang nikmat, juga makanan ringan yang lumaya banyak. Si Sandi tidak pernah memakan pemberian bapaknya itu, dia malah membagikan semua makanan yang ia punya ke teman-teman kamarnya.
Ya, kami sih merasa diuntungkan. Asal perut kenyang itu sudah membuat kami senang. Tapi semua itu berubah menjadi mencekam saat kami tahu kalau ayahnya Sandi sudah lama meninggal. Hal itu baru kami ketahui saat pengumuman peringkat semester ganjil, si Sandi menjadi juara 2 dan namanya ayahnya disebut dengan gelar almarhum di depan namanya. Setelah kami satu kamar tahu kebenaran itu, kami tak mau lagi menerima makanan pemberian Sandi.
***
Malam berikutnya, saat semua orang sudah tidur lelap. Pintu kamar diketuk, aku tahu itu pasti ayahnya Sandi yang rutin menjenguk di malam Sabtu. Kulihat Sandi bangun lalu berjalan ke arah pintu. Sayup-sayup, kudengar percakapan mereka dari balik lemari itu.
“Mereka sudah tahu Ayah dan tidak mau menerima makanan dariku lagi,” kata Sandi.
“Nanti Ayah beri mereka pelajaran,” timpal Ayahnya.
Aku semakin takut mendengar ancaman itu. Sebisa mungkin kupejamkan mata, kututup kepalaku dengan bantal agar tidak mendengar percakapan mereka.
“Dia orangnya Ayah,” tiba-tiba saja si Sandi sudah berdiri di depanku sambil menunjuk wajahku.
“Ke… kenapa, ya?” aku terbata-bata melihat wajah ayahnya yang datar dan pucat.
***

Facebook Comments

Author: ahlijualproperti087887232777